Kenapa Alergi dengan Salafy (4)

Kemudian apa yang engkau maksud dengan khilafiah diatas ? Apakah membicarakan bid’ah dan syirik itu dianggap khilafiah dan dilarang ? Coba jelaskan kepada kami secara detail apa yang pak Kyai maksud dengan khilafiah dan jangan hanya disebutkan secara global ! Imam Ibnul Qoyyim v berkata dalam qosidah nuniyahnya :

فَعَلَيكَ بِالتَفصِيلِ وَالتَبيِينِ فَال إِطلاَقُ وَالإِجمَالُ دُونَ بَيَانِ

قَد أَفسَدَ هَذَا الوُجُودَ وَخَبَّطا ال أَذهَانَ وَالآراءَ كُلَّ زَمَانِ

Haruslah engkau memperinci dan menjelaskan

Penjelasan global tanpa perincian

Telah merusak alam ini dan membingungkan

Akal pikiran setiap zaman

Diantara hal yang membuat kita prihatin kepada pak Kyai adalah penamaan beliau terhadap pembahasan tauhid asma’ dan sifat, bid’ah dan khurafat dengan kata “Isu”. Saya tidak tahu apakah ini salah cetak atau memang inikah figure sang Kyai ?!

Pak Kyai berkata : “Mengapa mereka yang mengaku sebagai salafi yang mengikuti manhaj dan fikroh Abdul Wahab, namun anti terhadap organisasi (tanzim), juga dalam pemahaman aqidah secara partial (yaitu sebatas Tauhid Asma, sifat serta pemberantasan bid’ah dan khurafat saja) sekalipun tidak dinafikan bahwa hal ini juga sangat penting. Sesungguhnya mereka telah mengambil jarak dari pemahaman salafi yang sebenarnya.

Salafi menjawab : Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa salafi adalah pengikut manhaj salafush sholeh dan bukan pengikut perorangan atau individu yang bisa salah dan bisa benar serta tidak pernah salafi fanatik kepada seorangpun selain Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang maksum. Salafi mengikuti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab v karena beliau sesuai dengan manhaj salafuh sholeh y terutama dalam masalah aqidah. Maka siapakah yang telah mengambil jarak dari pemahaman salafi yang sebenarnya ? Apakah pak Kyai pernah mempelajari, mengerti dan mengajarkan kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab seperti Ushuluts tsalatsah, kasyfusy syubhat, kitabut tauhid dan yang lainnya ?

Pak Kyai telah mengakui sendiri disini bahwa pembahasan tauhid asma, sifat, pemberantasan bid’ah dan khurofat adalah hal yang juga sangat penting, tapi kenapa pak Kyai menyudutkan salafi dalam hal ini ? Mengapa pak Kyai plan-plin ? Sadarkah pak Kyai akan apa yang bapak bicarakan ini ? Bukankah pak Kyai tahu bahwa salafi mengajarkan kepada umat semua masalah agama ini ? coba pak Kyai baca majalah-majalah salafi seperti majalah Al-Furqon (Gresik), majalah As-Sunnah (Solo), Adz-Dzakhiroh dan lain-lain atau bisa hadir juga dipengajian salafi agar pak Kyai tidak menuduh seenaknya tanpa bukti !!!

إِن كُنتَ لاَ تَدرِي فَتِلكَ مُصِيبَةٌ وَإِن كُنتَ تَدرِي فَالمُصِيبَةُ أَعظَمُ

Jika engkau tidak tahu maka ini musibah

Dan apabila engkau sudah tahu maka musibahnya lebih parah

Adapun masalah organisasi, salafi tidak pernah anti selama organisasi tersebut dibangun diatas at-ta’awun ‘alal birri wat taqwa (tolong-menolong diatas kebaikan dan ketakwaan) bukan diatas hizbiyah (fanatic golongan) yang mengukur kebenaran dengan organisasi. Salafi tidak menjadikan organisasi sebagai tolak ukur kebenaran. Salafi hanya menjadikan organisasi sebagai wadah untuk berdakwah kepada Al-Qur’an dan sunnah serta metode salafush sholeh. Oleh karenanya, jika organisasi tersebut tidak menginginkan dakwah salafi lagi maka salafi akan dengan lapang dada meninggalkan organisasi tersebut dan akan tetap berdakwah seperti semula. Dakwah salafiyah tidak disempitkan oleh ruang dan waktu maupun organisasi.

Pak Kyai berkata : “Pemahaman keislaman yang dianut Muhammad bin Abdul Wahhab tersebut, sama dengan yang dipahami oleh Ibnu Taimiyah dan Hasan Albanna”.

Salafi menjawab : Apakah pak Kyai berbicara seperti ini dalam keadaan sadar atau bermimpi ? Apakah pak Kyai sedang mengingau ? Pernahkah pak Kyai membaca buku-buku mereka dan mengerti apa isinya ? Tahukah pak Kyai siapa Hasan Albanna sebenarnya ? Bukankah Hasan Albanna sendiri mengaku bahwa dirinya adalah seorang sufi hasofi ?[1] Bukankah Said Hawa murid Hasan Albanna sendiri yang lebih tahu tentang gurunya mengakui Hasan Albanna sebagai seorang sufi ?[2] Bukankah telah tersohor ucapan Hasan Albanna bahwa Ikhwanul Muslimin adalah dakwah salafiyah, tarekat sunniyah dan hakikat sufiyah ? [3] Bagaimana mungkin bisa bersatu antara haq dan batil, antara tauhid dan syirik, antara sunnah dan bid’ah, antara salafi sunni dengan sufi ?

” Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. ” (QS.Al-Baqarah : 42)

——————————————————————–
[1] Lihat Mudzakkiroh dakwah wad daa’iyah hal 19.
[2] Lihat Jaulatun fil fiqhain Hal.154.
[3] Lihat Majmu’atur rosaail Hasan Albanna hal.362.
___________________________________________________________

رَاحَت مُشَرِّقَة وَرُحتُ مُغَرِّبًا فَمَتَى لِقَاءُ مُشَرِّقٍ وَمُغَرِّبِ

Dia berjalan ke arah timur dan aku berjalan ke arah barat

Kapankah akan bertemu yang ke timur dengan yang ke barat ?!

Syaikh Sholeh bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan (seorang anggota kibarul ulama Saudi Arabiah) –hafidzahullahu- pernah ditanya : Apakah dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab merupakan dakwah Islamiyah Hizbiyah seperti Jama’ah Ikhwanul Muslimin dan Tabligh ? Apa nasehat anda bagi orang yang mengatakan seperti ini dan menyebarluaskannya dalam buku-buku ? Beliau menjawab : “Sesungguhnya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab v diatas manhaj salafush sholeh baik dalam bidang ushul/pokok (agama) maupun cabangnya. Dakwah beliau tidak lain hanyalah menelusuri metode ahlu sunnah baik yang terdahulu maupun yang terakhir dan bukan sebuah hizbiyah/kelompok. Adapun Jama’ah Ikhwanul Muslimin dan Tabligh dan yang lainnya maka kita seru mereka semua untuk mengembalikan metode mereka kepada Al-Qur’an dan Sunnah serta petunjuk dan pemahaman salafush sholeh serta menimbangnya dengan hal tersebut. Jika sesuai maka –alhamdulillah- dan jika menyelisihi maka harus diluruskan.[1]

Syaikh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al-Haritsi –hafidzahullahu- menambahkan atas ucapan Syaikh Sholeh diatas dengan ucapan beliau : “Kitab-kitab Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab v masih ada dihadapan kita dan isinya penuh dengan pembahasan aqidah shohihah (tauhid) yang merupakan hak Allah atas hamba-Nya dan sekaligus penuh dengan bantahan terhadap yang menyelisihi tauhid. Sejarah emas beliau dalam menyeru manusia kepada ibadah hanya kepada Allah saja serta memerangi kesyirikan (sudah diketahui oleh semua orang-pent) dan itulah dakwah para Rasul. Inilah dakwah Imam Al-Mujaddid/pembaharu yang Allah hidupkan dengannya negri ini dan kita –alhamdulillah- masih merasakan manisnya dakwah beliau yang mubarokah.

Adapun dakwah Ikhwanul muslimin, maka kita perlu bertanya, apakah pendirinya (Hasan Albanna) menulis suatu kitab tentang tauhid yang menjelaskan aqidah shohihah ataupun muridnya sampai hari ini ? Apakah Hasan Albanna menyeru manusia untuk beribdah hanya kepada Allah saja dan memerangi kesyirikan dengan segala macam bentuknya ? Apakah dia pernah menghilangkan kubah-kubah (yang dibangun diatas kuburan-pent) ? Ataukah pernah dia menghancurkan pesarean-pesarean (makam-makam yang dikeramatkan) serta melarang dari tawassul kepada kuburan-kuburan para wali dan orang-orang sholeh ? Dan apakah dia telah menghidupkan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ?

Semua pertanyaan ini tidak akan ada jawabannya, bahkan jawaban orang yang tahu aqidah salafiyah lalu membandingkannya dengan dakwah Ikhwanul muslimin yang dipelopori oleh pendirinya Hasan Albanna serta membaca bukunya (dia akan tahu) bahwa Ikhwanul muslimin tidak berada diatas dakwah kepada pemberantasan syirik dan bid’ah. Hasan Albanna berkata : ” Aku mengambil tarekat Hasofiyah Syadziliyah darinya (Sayyid Abdul Wahab seorang pemberi rekomendasi dalam tarekat Hasofiyah) “.[2] Dia juga berkata : “Aku masih teringat bahwa kebiasaan kami dulu adalah pergi berombongan ke acara peringatan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam setelah hadroh setiap malam, mulai tanggal 1-12 rabiul awal. Kami secara bersama-sama menyenandungkan qosidah dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan.[3] Diantara bunyi qosidah tersebut adalah

هَدَا الحَبيبُ مَعَ الأَحبَاب قَد حَضَرَ وَسَامَحَ الكُل فيما قد مضى وجرى

Inilah Al-Habib (Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) telah hadir bersama orang-orang yang dicintainya

Beliau mengampuni semuanya dari dosa yang telah lalu dan lampau

Dan didalam kitab “Majmu’ rosail Hasan Albanna” hal. 392 dia berkata : “Doa kepada Allah apabila diselingi tawassul dengan salah satu makhluk-Nya merupakan masalah khilafiyah[4] yang berkaitan dengan cara berdoa dan bukan termasuk masalah aqidah”.

Syaikh Jamal berkata : Semua ini tidak perlu banyak dikomentari. Kesimpulannya bahwa Hasan Albanna adalah seorang sufi hasofi, pengkultus kuburan. Dia telah memberikan sifat Al-Kholik (Allah) kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yaitu sifat pengampunan dan tidak tersisa bagi Allah sedikitpun, Maha suci Allah dari apa yang mereka ucapkan.

Dari penjelasan diatas, masih adakah orang yang memiliki sedikit ilmu atau akal yang ingin menyamakan antara dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dengan dakwah pembaharu bidah mereka (Hasan Albanna) ? Sungguh berbeda antara emas dan tanah.

——————————————————————–

[1] Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘an as-ilatil manaahij al-jadiidah hal.69-73 oleh Syaikh Sholeh Al-Fauzan.
[2] Mudzakkiroh ad-dakwah wad daa’iyah hal.24.
[3] Idem hal.52
[4] Apakah ini juga yang dimaksud oleh pak Kyai tentang masalah khilafiyah ?
___________________________________________________________

Syaikh Al-‘Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz v pernah ditanya tentang Ikhwanul muslimin di majalah “Al-Majallah” edisi 806 tertanggal 25/2/1416 H hal.24. Inilah soal dan jawaban beliau :

Pertanyaan : Wahai Samahatus syaikh, gerakan Ikhwanul muslimin telah masuk ke Saudi Arabiah sejak beberapa waktu yang lalu dan memiliki kegiatan di tengah para penuntut ilmu. Bagaimana pendapat anda tentang gerakan mereka ini ? Seberapa besar kesamaan mereka dengan manhaj ahlu sunnah wal jama’ah ?

Jawaban : “Gerakan Ikhwanul muslimin banyak dikritik/dibantah oleh para ulama karena ketidak adanya kesungguhan mereka dalam menyeru umat kepada tauhid serta memberantas kesyirikan dan bid’ah. Mereka memiliki metode tersendiri dan diantara kekurangannya adalah tidak adanya kesungguhan dalam menyeru kepada tauhidullah (mengesakan Allah dalam beribadah) serta kepada aqidah shohihah yang dipegang oleh ahlu sunnah wal jama’ah.

Selayaknya bagi Ikhwanul muslimin untuk berpegang teguh dengan dakwah salafiyah yaitu dakwah kepada tauhidullah, mengingkari ibadah kepada kuburan-kuburan keramat, para wali yang telah mati atau beritighotsah kepada orang-orang yang telah dikubur seperti Hasan, Husein, Badawi dan selainnya. Wajib bagi mereka untuk menfokuskan dakwah kepada makna laa ilaha illallahu yang merupakan pondasi Islam serta seruan pertama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika di kota Mekah. Banyak sekali para ulama yang mengkritik mereka dalam masalah ini. Begitu juga mereka mengkritik Ikhwanul muslimin tentang ketidak adanya keperdulian mereka terhadap sunnah/hadits serta metode salaf dalam hukum-hukum syariat. Dan masih banyak lagi yang pernah saya dengar dari kritikan-kritikan ulama terhadap mereka. Semoga Allah memberi mereka hidayah.”[1]

Pak Kyai berkata : “Tentang kembali ke salaf, Imam Syahid Hassan Albanna berpesan bahwa metode salaf adalah aula bil ittiba’ (lebih utama diikuti). Kaum salaf kata Albanna, secara akal lebih cerdas, secara hati lebih luas, secara bahasa lebih paham, secara jarak lebih dekat dengan Rasulullah. Itulah keutamaan salaf.”

Salafi menjawab : Dimanakah Hasan Albanna mengatakan seperti ini ? Kalau toh benar ini adalah ucapannya, lalu mana bukti kongkritnya ? apakah pernah salaf merayakan maulid, mengkultuskan kuburan serta bertarekat sufi hasofi ?

Artinya : ” Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (QS.Al-Baqoroh : 111)

Sesungguhnya diantara aqidah ahlu sunnah wal jama’ah sejak dahulu sampai sekarang yang banyak diselisihi oleh para aktivis harokah/gerakan dan juga oleh pak Kyai adalah pemberian gelar Syahid kepada tokoh-tokoh idola mereka seperti yang dikatakan oleh pak Kyai diatas (Syahid Hassan Albanna) atau Asy-Syahid Sayyid Quttub, Asy-Syahid Abdullah Azzam dan lain-lain. Tidakkah mereka pernah membaca shohih Bukhori terutama kitab Jihad was sair di bab “laa yuqoolu fulaanun syahiid” (Tidak boleh mengatakan fulan itu syahid) ?! Ibnu Hajar Al-Asqolaani v menjelaskan ucapan imam Bukhori diatas dengan ucapan beliau : “Maksudnya (tidak boleh) memastikan bahwa si fulan itu Syahid melainkan kalau ada wahyu yang turun. Seolah-olah Imam Bukhori mengisyaratkan kepada hadits Umar t yang mengatakan dalam khutbah beliau : “Kalian mengatakan dalam peperangan, si fulan itu syahid atau si fulan meninggal dalam keadaan syahid…Ingatlah, jangan kalian mengatakan seperti itu akan tetapi katakan (secara umum) seperti yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sabdakan : “Barangsiapa yang mati atau terbunuh dijalan Allah maka dia syahid”.” (Hadits ini derajatnya hasan diriwayatkan oleh Ahmad, Said bin Manshur dan selain keduanya)”.[2]

Perlu juga kita pertanyakan, siapakah yang dimaksud dengan salaf menurut Hasan Albanna ? karena sebagian orang yang getol melakukan bid’ah seperti perayaan maulid nabi juga memiliki semboyan “Salaf pembimbingku”[3], tapi maksudnya adalah nenek moyang mereka dari kalangan sufi.

Pak Kyai berkata : “Kemudian yang menjadi masalah kini, terdapat sekelompok yang menisbatkan dirinya sebagai satu-satunya pewaris salaf, adapun segala sesuatu yang berbeda pendapat dengannya berarti bukan lagi tergolong dalam Thaifah Al-Manshuroh. Dalam kelompok ini juga terdapat orang-orang yang diakui sebagai ulama-ulama kondang yang menurut fatwa, pendapat dan analisanya, menyimpulkan selain golongannya adalah aliran bid’ah”.

——————————————————————–
[1] Footnote Al-Ajwibah Al-Mufiidah hal.69-72.
[2] Lihat penjelasan lebih lanjut di Fathul Baari 6/110.
[3] Seperti yang dikatakan oleh buletin sunni (seharusnya bid’I bukan sunni) yang pernah kita bantah pada edisi 15 hal.10.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: